Owner Louvre Kecewa atas Pelayanan MSC 2019

Owner Louvre Kecewa atas Pelayanan MSC 2019

June 28, 2019 0 By vidi

Mobile Legends Southeast Asia Cup 2019 atau MSC 2019 telah selesai dari beberapa waktu lalu. Turnamen bergengsi se-Asia Tenggara ini juga sudah menghasilkan ONIC Esports sebagai pemenangnya. Pada babak final, ONIC Esports kembali bertemu dengan Louvre. Untuk kesekian kalinya Louvre tetap kembali kalah dari ONIC Esports pada babak final.

Euforia kemenangan sudah hampir berlalu. Tim ONIC Esports sudah berhasil membawa pulang trofi, medali, dan juga uang hadiah sebesar USD 68 ribu atau sekitar Rp 962 juta. Tak lupa, Sasa juga dinobatkan sebagai pemain terbaik atau MVP dalam MSC 2019 ini.

Akan tetapi, ada hal yang tak mengenakkan yang disampaikan oleh owner dari Louvre Esports, yakni Erick Herlangga. Pemilik tim yang menjadi runner up ajang MSC 2019 ini mengeluhkan pelayanan buruk selama MSC 2019. Keluhan ini disampaikan melalui update instagram pribadinya.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Kido sempat jatuh sakit saat menjalani pertandingan MSC 2019 tersebut. Kido diketahui terserang tifus dan sempat dirawat di rumah sakit. Sayangnya, pihak panitia MSC 2019 Filipina tidak bertanggung jawab sama sekali atas masalah kesehatan yang dialami atlet selama masa turnamen. Biaya perawatan Kido yang mencapai 33 juta rupiah harus ditanggung sendiri oleh pihak Louvre. Apa saja keluhan yang disampaikan Erick Herlangga terhadap pelayanan panitia MSC 2019?

Secara garis besar, Erick Herlangga menyampaikan tiga poin keluhan dan juga 3 poin saran. Hal ini disampaikannya melalui story instagram pada tanggal 26 Juni 2019 kemarin. Yuk simak poin-poin yang disampaikan oleh Kiddo.

Keluhan Erick Herlangga terhadap pelayanan panitia MSC 2019 adalah sebagai berikut. Pertama, atlet harus membayar biaya rumah sakit sendiri yang jumlahnya sekitar Rp 33 juta rupiah. Tentu saja Louvre yang akan mengganti biaya rumah sakit tersebut. Untuk ke depannya, Erick memberikan saran kepada pihak panitia untuk membekali para atlet semacam asuransi kesehatan ketika bertanding di luar negeri. Dengan begitu, ini bisa meminimalisasi risiko seperti yang dialami oleh Kido.

Kedua, saat menjalani pertandingan, pemain hanya mendapatkan makanan ketika di hotel. Selama bertanding, pemain tak mendapatkan cukup makanan sehingga banyak pemain yang tidak fokus karena kelaparan. Untuk event internasional seperti ini, panitia seharinya memberikan makanan 3 kali sampai event berakhir. Ini sangat penting untuk menjaga kesehatan atlet.

Terakhir, Erick juga mengeluhkan pelayanan panitia saat turnamen berlangsung. Saat tim sudah standby menunggu pertandingan dari pagi, tim panitia tidak menyediakan makanan apa pun. Padahal, mereka juga membutuhkan asupan energi untuk bekal bermain. Lagi-lagi, pemain pun harus merasa kelaparan. Hal ini sangat berbeda dengan MPL yang diselenggarakan di Indonesia. Panitia menyediakan makanan utama dan bukan snack tak jelas seperti yang disajikan oleh panitia MSC 2019.

Keluhan-keluhan tersebut sengaja dipublikasikan supaya menjadi pelajaran bersama, baik bagi Moonton maupun organisasi esports pada umumnya. Bagaimanapun, kesehatan atlet sangat penting. Ke depannya, entah pertandingan apa pun yang akan diselenggarakan, panitia harus mengutamakan kesehatan para atlet. Dengan begitu, tak akan terjadi masalah yang sama seperti yang dialami oleh Louvre dan juga Kido.

Sampai hari ini, pihak Moonton Indonesia belum menyampaikan tanggapannya atas hal-hal yang dikeluhkan oleh Erick Herlangga. Pihak panitia MSC 2019 pun belum mengatakan apa pun. Kita doakan saja semoga pertandingan-pertandingan bertaraf international untuk ke depannya memiliki pelayanan yang lebih baik lagi.